Galeri

Arung Jeram Malam Hari, Kenapa Takut?


arung jeram,travel“Berbaris, empat orang ke belakang!” seru seorang pemandu dengan logat Sunda pada saya dan rombongan berisi 38 orang. Dengan tertib, kami ikuti perintahnya. Setelah lengkap tiap barisnya, si pemandu bertubuh gempal itu memanggil dua nama pemandu lain, “Ato dan Yana, tolong bimbing barisan ini,” katanya sambil menunjuk saya di depan barisan.

Muncullah dua pria, satu sudah tua berumur 50-an dan bertelanjang kaki dan satu lagi berusia 30-an. Inilah dua penyelamat kaki untuk arung jeram malam hari atau lebih dikenal dengan Night Rafting di Sungai Citarik, Sukabumi, Jawa Barat. Dibanding arung jeram siang hari yang cukup dengan satu pemandu di tiap perahu karet, night rafting mewajibkan dua pemandu.

Satu pemandu mengarahkan perahu di bagian belakang dan satu lagi di bagian depan menerangi jalur kami dengan head lamp. Minimya pencahayaan ini membuat pihak operator memberi tambahan alat keselamatan di tubuh kami para peserta. Selain helm, pelampung, dan dayung, kami diberi batangan kecil berwarna cerah yang bercahaya saat diketuk-ketuk ke benda keras (phospor stick).

Terserah ingin diletakkan di mana batangan itu, dijadikan gelang, digantung di pelampung, atau diletakkan dihelm. Yang penting terlihat pancaran cahayanya. Dayung dan helm yang saya gunakan pun ditempeli kertas spot light yang berpendar bila terkena cahaya. ”Biar terlihat saat nanti ada yang jatuh ke air,” kata Ato, pemandu yang lebih tua dengan pengalaman 15 tahun.

Perlahan, Ato dan Yana mengarahkan kami perahu karet bernomor ’51’. Rekan-rekan rombongan lain sudah menanti di atas perahu yang masing-masing berisi empat peserta dan dua pemandu. Tak ada yang boleh berangkat lebih dulu selain perahu milik petugas penyelamat.

Perlahan, iringan rombongan kami bergerak. Hanya 200 meter pengarungan dimulai, arus mulai mengamuk ke tubuh perahu. Adrenalin mulai menjalar dan membuat kami berteriak takut bercampur senang. Pak Ato dengan susah payah mengarahkan kapal agar tidak menabrak batu-batu besar yang nampak angkuh di tengah arusnya jeram.

Sesekali perahu kami masih juga tersangkut di batu berukuran 3-4 meter. Bahkan tanpa sengaja Pak Ato malah menabrakkan kami ke perahu kayak yang berisi petugas penyelamat. “Maaf ‘sob!Salah jalur,” kata Pak Ato pada si petugas yang hanya bereaksi dengan lambaian tangan.

Belum puas tenggorokan menjerit, kami harus berhenti di dua titik.”Check point, agar perahu rescue bisa jalan lebih dulu di depan,” jelas Pak Ato. Selain itu, check point itu jadi titik persiapan para peserta untuk berfoto. Karena beberapa meter di depannya sudah bersiap lampu tembak dan dua juru kamera yang siap mengabadikan pengarungan malam para peserta.

Pak Ato memilih bersabar dan menyuruh perahu-perahu lain untuk maju lebih dulu. Hingga tersisa kapal kami dan kayak kecil berisi seorang tim penyelamat. “Sabar saja dulu, paling terakhir tidak apa-apa, biar fotonya bagus.” Kami pun mengangguk setuju dengan penjelasan itu.

Tak lama, perahu kami pun bergerak menuju sumber cahaya tercerah malam itu; tiga lampu tembak dengan dua juru kamera berzig-zag di antaranya. Lupakan dingin dan takut, gaya narsis pun dikeluarkan.

Night Rafting bukan hal baru dalam dunia arung jeram. Ryan Syahrajaprima, Marketing Komunikasi Arus Liar, menyatakan jika program ini sudah mereka buka sejak 1995. Namun, sepinya peminat membuat program ini jarang diadakan secara reguler. “Rafting malam itu adrenalinnya beda, tidak setiap orang pula bisa mengendalikan rasa takut masing-masing,” kata Ryan saat ditemui Minggu (1/1) soal alasan peminat yang sepi.

“Padahal ini ngga berbahaya selama peralatan dan safety-nya sesuai taraf internasional. Kemudian guide (pemandu) juga tidak sembarangan.”

Pemandu di Arus Liar, tambah Ryan, sudah mendapat sertifikat IRF (International Rafting Federation) dari Belanda. Pemeriksaan mata pun dilakukan tiap dua minggu sekali karena inilah indera terpenting dalam pengarungan malam hari. “Ketakutan night rafting hanya satu, ketagihan!,” kata Ryan lalu tergelak. (Zika Zakiya)

Sumber

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s