Berdayakan Diri Kembangkan Potensi


By : Himawan Wijanarko

Pemberdayaan diri merupakan salah satu titik terpenting untuk mengarungi dunia karir.  Kita mengggali potensi yang tersimpan dalam diri, dan kemudian mengembangkan seoptimal mungkin, yang tentunya melalui sebuah proses perencanaan yang matang.

Titik tolak pemberdayaan diri adalah pemahaman diri. Sebuah proses dalam menyadari kekuatan yang terpendam, dan kelemahan yang melekat dalam diri.  Kemudian menumbuhkembangkan keinginan untuk mengubah citra diri menjadi lebih positif.

itra diri adalah blue print dalam bertingkah laku. Dengan memperbaiki cara pandang terhadap diri, keyakinan diri akan tumbuh, dan tingkah laku pun akan mengikuti konsep diri yang baru ini.

Pemberdayaan diri pada galibnya meliputi dua bentuk utama: mengubah situasi dan mengubah diri sendiri. Pendekatan yang pertama berarti mengubah situasi menjadi seperti yang diinginkan, untuk mendukung upaya pengembangan diri. Sementara pendekatan kedua, mengembangkan komponen-komponen identitas diri yang selama ini dirasakan sebagai hambatan. Kedua pendekatan ini mesti dilaksanakan secara bersamaan, ketika situasi memang memungkinkan.
Keberhasilan pemberdayaan diri tak lepas dari pengenalan dan pengembangan potensi yang dimiliki, sehingga sudah selayaknya pengembangan potensi direncanakan dengan baik. Proses perencanaan pengembangan potensi meliputi langkah-langkah strategis berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian dapat membantu menemukan kekuatan dan hambatan yang mungkin timbul dari upaya-upaya mencapai tujuan karir. Termasuk di dalamnya upaya mengantisipasi kegagalan.

Terdapat tiga hal yang tidak boleh terlewatkan yaitu passion, persistence, dan commonsense. Passion merupakan modal utama, karena proses pengembangan diri dapat dikembangkan dengan baik apabila didasari oleh sikap mental dan perasaan positif untuk menjalankan rencana dan mencapai tujuannya. Semangat ini akan menimbulkan inisiatif yang tinggi, minat yang besar, dan stamina yang kuat dalam proses pelaksanaannya. Persistence merupakan prasyarat kedua, karena perencanaan membutuhkan kesinambungan dan konsistensi untuk mencapai tujuan. Orientasinya  harus jelas, sehingga nantinya dapat melaksanakannya secara konsekuen. Ketiga, commonsense. Aspek rasionalitas berpengaruh besar terhadap keberhasilan penyusunan dan pelaksanaan suatu perencanaan. Usaha-usaha dan tujuan yang dipilih harus dilandasi akal sehat, mempertimbangkan kemampuan diri dan kondisi lingkungan sekitarnya.

Beranjak dari ketiga hal tersebut di atas kita dapat melakukan perencanaan dengan melibatkan orang lain. Misalnya berdiskusi dengan pasangan, anggota keluarga, rekan-rekan kerja, sahabat, dan sebagainya. Namun, bisa juga perencanaan dilaksanakan sendiri. bukankah diri kita sendirilah yang paling memahami apa yang paling sesuai untuk dilaksanakan.

Dalam konteks proses perencanaan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan ide. Metode yang paling sederhana adalah melalui brainstorming bersama beberapa rekan atau saudara, agar dapat menarik manfaat melalui ide-ide yang mereka lontarkan. Kemudian secara bersama-sama mencari bentuk dasar perencanaan dan berbagai kemungkinan implementasi perencanaan itu.

Metode lainnya, melakukan pilihan dari daftar aktivitas yang telah dirancang, disertai suatu ketentuan tentang “apa yang harus dikerjakan” dan “apa yang penting”. Kemudian membuat pertanyaan sebanyak mungkin berkenaan dengan hal tersebut, menjawab setiap pertanyaan, menemukan tingkat kesulitan masing-masing, dan mencari kaitan antara satu dengan yang lain untuk menentukan skala prioritas. Ada yang dapat dilaksanakan secara bersamaan. Mungkin ada yang perlu ditunda, dan ada pula yang harus segera dilaksanakan.

Melalui  pola ini, kita dapat menentukan tujuan pribadi dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mencapai tujuan tersebut, dan berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan tujuan itu. Proses demikian akan memberikan umpan balik untuk menilai kembali langkah-langkah yang kurang tepat, sehingga nantinya mampu melakukan penyesuaian atau perubahan atas langkah-langkah yang kurang tepat itu.

Dalam membuat perencanaan pengembangan potensi, kita jangan melupakan keunggulan diri sendiri. Caranya menyertakan daftar aktivitas yang pernah dipelajari dan dilakukan, kemudian menentukan aktivitas mana yang paling dikuasai. Dari sini kita dapat menemukan batasan-batasan diri sebagai hasil dari tinjauan diri dalam beragam sisi.

Dalam menyusun perencanaan sebaiknya kita juga dapat menentukan apa saja yang mendukung. Biasanya berasal dari kelebihan diri kita dapat pula berasal dari berbagai faktor positif di sekeliling kita. Sehingga dibutuhkan kepekaan yang tinggi untuk “mengangkat” hal-hal tersebut, agar  dapat dimanfaatkan secara signifikan.

Perencanaan yang baik pun mengandung deskripsi pertolongan yang dibutuhkan. Di sini, perlu ditentukan siapa yang dapat membantu, sejauh mana bantuan yang dapat diberikan, dan apa saja yang dapat diperoleh. Perlu diingat, pertolongan di sini harus dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai.

Tanpa perencanaan menjadikan kita tidak mempunyai pedoman yang jelas, orientasi yang tidak fokus, serta berdampak kepada ketidakjelasan langkah-langkah yang harus ditempuh. Perencanaan menjadikan semua tindakan tertata rapi menuju tujuan yang diinginkan, dan merupakan salah satu kunci pemberdayaan diri dalam mendaki menuju ke puncak karir. <Republika>

Sumber

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s